kursiterbalik's Blog

Just another WordPress.com weblog

Archive for the ‘Sejarah’ Category

Ditemukan, Tapal Batas Kota Malang Kuno

leave a comment »

MALANG, KOMPAS.com- Balai Penyelamatan Benda Purbakala Mpu Purwa Malang, beberapa waktu lalu telah mengekskavasi dua buah stambha dari Kelurahan Buring di Kota Malang. Temuan dari Zaman Majapahit ini diduga merupakan tapal batas wilayah Malang kuno.

Stambha atau batu tugu tersebut ditemukan di RT 2/RW 4 Kelurahan Buring, Kecamatan Kedungkandang. Saat ditemukan, kondisi sebuah stambha masih utuh dan sebuah stambha lainnya terpotong sebagian dan hanya menyisakan sekitar 50 cm bagian atasnya.

Kondisi stambha yang ditemukan di bagian bawahnya berbentuk segi empat dan di bagian atas bersegi delapan. “Hingga kini fungsi stambha ini belum jelas. Namun diperkirakan ini merupakan penanda wilayah atau kerajaan,” tutur Suwardono-arkeolog bidang klasik yang turut membantu Balai Penyelamatan Benda Purbakala Mpu Purwa Malang, Kamis (14/1/10`0) di Malang.

Menurut Suwardono, stambha ini diperkirakan sebagai tugu tapal batas kerajaan atau kadipaten. Jika berdasar prasasti Wijayapranakramawardhana (Trenggalek), di daerah seputar Buring tersebut dahulunya merupakan bekas kerajaan Majapahit dengan ratunya Dyah Mahamahisi. Istananya berada di Kadipaten Kabalon atau yang sekarang dikenal sebagai Madyopuro. Jika berdasar Kitab Negarakertagama, dimungkinkan di sana juga bekas istana Kusumawardhani.

“Jika benar hal itu, maka tugu tersebut dimungkinkan merupakan tapal batas Kadipaten Kabalon. Ini bisa dihubungkan dengan sejarah Kota Malang kuno,” ujar Suwardono.

Stambha tersebut ditemukan di wilayah selatan Madyopuro. Jika dihubungkan dengan prasasti dan kitab tersebut, sangat dimungkinkan bahwa batas Kadipaten Kabalon tersebut di sisi selatan ditandai dengan stambha yang ditemukan, di sisi barat dibatasi oleh Sungai Brantas, dan di sisi Timur dibatasi oleh Buring (penandanya alam), dan di sebelah utara mestinya ada lagi sebuah stambha.

Saat ini, stambha tersebut dirawat di halaman Balai Penyelamatan Benda Purbakala Mpu Purwa Malang. Benda bersejarah peninggalan agama Hindu ini beratnya mencapai 700 kg, tinggi 110 cm, lebar dasar segi empat selebar 35 cm, jari-jari stambha selebar 42 cm.  

“Stambha seberat ini untuk mengangkatnya saja butuh enam orang. Sehingga memang saat ini dirawat di halaman museum, diberi semacam dasar (pedestal) dan dibersihkan secara rutin,” ujar Sumantri, juru rawat arca di Balai Penyelamatan Benda Purbakala Mpu Purwa Malang.

Jika merujuk pada bentuk stambha di mana bagian bawah bersegi empat dan di bagian atas bersegi delapan, maka menurut Suwardono dipastikan berkaitan erat dengan kebudayaan Hindu.

Segi empat dan delapan itu menggambarkan astadigpalaka atau delapan dewa penjaga mata angin. Yaitu Dewa Wisnu (sisi utara), Dewa Iswara (timur), Dewa Brahma (selatan), dan Mahadewa (barat).

Selain itu juga menggambarkan penjagaan Dewa Sangkara (di sisi timur laut), Dewa Agni (di sisi tenggara), Dewa Bayu (di sisi barat daya), dan Dewa Baruna (di sisi barat laut).

Iklan

Written by avetheo

Januari 16, 2010 at 12:56 pm

Ditulis dalam Pengetahuan, Sejarah

Tagged with , ,

Makam Cao Cao, Tokoh Legendaris Romance of Three Kingdoms

with one comment

BEIJING, KOMPAS.com — Para arkeolog China telah menemukan makam yang kemungkinan adalah milik Cao Cao, jenderal dan penguasa legendaris dari abad ketiga yang menjadi gambaran politisi licik di cerita rakyat China. Surat kabarChina Daily memuat pernyataan para arkeolog bahwa makam itu ditemukan di Desa Xigaoxue, dekat Kota Anyang, di Provinsi Henan tengah. Luasnya 740 meter persegi, dengan jalur sepanjang 40 meter yang berujung pada ruang bawah tanah.

Para pakar sejarah menyatakan bahwa bakat militer dan politik Cao Cao begitu cemerlang sehingga ia berhasil membangun kerajaan terkuat dan termakmur di China utara selama masa “Tiga Kerajaan”, yaitu dari tahun 208 hingga 280 Masehi, ketika China terbagi menjadi tiga.

Tokoh Cao Cao pada opera china tradisional dan juga di novel sejarah China yang paling populer, “Romance of the Three Kingdoms”, sering kali ditampilkan sebagai penjahat yang licik dan menghalalkan segala cara. Dalam penokohan fiksinya, Cao Cao konon berkata, “Lebih baik aku menyalahi dunia daripada dunia menyalahi aku.”

Dari makam tersebut, dalam penggalian selama setahun, telah ditemukan sisa tulang-belulang dari tiga orang dan lebih dari 250 relikui. Begitulah tutur para arkeolog China. Sisa kerangka-kerangka manusia itu telah diidentifikasikan sebagai seorang pria berumur sekitar 60 tahun dan dua wanita, satu berusia sekitar 50 tahun dan satu lagi sekitar 20 sampai 25 tahun.
 
Para ahli mengatakan bahwa sang pria tersebut adalah Cao Cao, yang meninggal pada usia 65 tahun tahun 220 Masehi. Wanita yang lebih tua adalah permaisurinya, dan wanita muda itu adalah pelayannya. Laporan arkeolog juga menyatakan bahwa di antara temuan relikui terdapat lukisan di batu yang menggambarkan kehidupan sehari-hari pada masa Cao Cao, dan beberapa loh batu bertuliskan daftar barang persembahan, dan juga sejumlah barang-barang pribadi milik Cao Cao.

Laporan arkeolog juga mencatat insiden penyitaan loh batu bertuliskan “Raja Wu dari Wei”, yaitu gelar anumerta Cao Cao, dari sejumlah orang yang berusaha mencurinya dari makam itu.

“Batu-batu bertuliskan gelar anumerta Cao Cao itu merupakan bukti terkuat,” kata arkeolog Liu Qingzhu, dari Akademi Ilmu Sosial China. “Kecuali makam Cao Cao sendiri, tak ada makam lain yang bisa memiliki begitu banyak relikui bertuliskan gelar anumerta Cao Cao.”

Written by avetheo

Januari 16, 2010 at 12:47 pm